Budaya Jeme Pagar Alam

Nyemantung

Dulu didaerah sekitar besemah, ade suatu kebiasean yaitu NYEMANTUNG, biasanya kaum lelaki ( duda / bujangan )

bertandang kerumah gadis / janda yang biasanya karena mereka sudah dekat.

bertandang kerumah gadis / janda pujaan hatinya dengan membawa bahan2 mentah berupa beras, kelapa, minyak sayur, ayam satu ekor atau bebek.

nyemantung

lalu bahan makanan tersebut dimasak dirumah gadis  atau janda tersebut sambil ngobrol bercanda ria sambil menanti hidangan makan dimasak..

setelah semua makanan matang lalu dihidangkan ( nasi dan lauk pauknya ) kemudian dimakan bersama , biasanya budaya nyemantung diadakan ba’da shalat Isyah sampai selesaiu.

jika pria sudah nyemantung biasanya hubungan dengan pihak perempuan sudah dekat. yang biasanya dilakukan selesai ngetam ( panen padi ) dulu sekali sekitar tahun 1970an masih diadahkan kemudian lambat laun hilang.

Sumber : Pamanda Basri Gumay

Silaturahim Lewat Tradisi Bubus Tebat Puyang

RATUSAN warga yang berasal dari Dusun Tanjung Menang, Lubuk Buntak, Meringang, Tebat Gunung, dan Muara Tenang, Kecamatan Dempo Selatan, Kota Pagaralam, rela bermandikan lumpur dan larut dalam suasana panen ikan di Tebat (danau-red) Bengkule Dusun Tanjung Menang, Kelurahan Prahu Dipo, Kecamatan Dempo Selatan.

Riuh-rendah suara warga memecah pagi di tepian Tebat Bengkule. Ratusan warga tumpah ruah masuk ke dalam danau seluas lebih kurang 3 hektar ini.

Warga yang datang dari berbagai dusun ini berharap  mendapatkan berkah dari Tradisi Bubus Tebat Puyang (panen raya ikan di danau milik bersama-red). Sungguh pemandangan yang menakjubkan dan jarang terjadi.

Cuaca cerah menambah warga bersemangat untuk menyaksikan tradisi ini. Terlebih semua warga diberi kesempatan bagi seluruh warga untuk menangkap ikan.

Bahkan tidak sedikit warga rela bermandikan lumpur dan  berbekal peralatan seadanya untuk menangkap ikan. Mereka berjibaku terjun ke dalam air setinggi dada orang dewasa yang bercampur lumpur.

Hebatnya, setiap kali dilakukan panen raya, ikannya selalu berlimpah. Hal ini pula yang memberikan semangat tersendiri bagi warga untuk mendapatkan berkah dari tradis Bubus Tebat  Puyang tersenbut.

Tradisi Bubus Tebat Puyang hanya bisa dilakukan oleh warga setempat yang akan menggelar hajatan atau resepsi pernikahan dengan memotong hewan kerbau. Biasanya, sebelum Bubus Tebat Puyang,  dilakukan ritual dengan harapan akan mendapatkan ikan yang banyak untuk kebutuhan sedekahan.

Biasanya pemilik hajatan membentuk panitia tersendiri dengan membuat daerah-daerah khusus di dalam danau yang dimaksudkan untuk mendapatkan ikan yang banyak. Daerah tersebut tidak boleh diganggu oleh masyarakat umum.

Selebihnya diberikan kebebasan untuk warga mencari ikan yang oleh warga disebut dengan Njulung  (mencari ikan bersama-red). Bagi mereka yang berhasil mendapatkan ikan, ikan tersebut akan menjadi miliknya.

Menurut Yusadi, warga Dusun Tanjung Menang, dirinya sangat senang dengan adanya tradisi ini. Selain bisa mendapatkan ikan, antara sesama warga dapat saling bersilahturahim. “Meski air di tebat masih tergolong cukup dalam, akan tetapi untuk ikan yang didapatkan lumayan banyak,” jelasnya.

Dikatakannya tradisi Bubus Tebat Puyang sendiri merupakan kegiatan yang sangat ditinggu-tunggu masyarakat setempat. Pasalnya dengan adanya kegiatan tersebut warga bisa dengan leluasa mencari ikan dan diperbolehkan membawa ikan hasil tangkapannya. “Biasanya tergantung rezeki sendiri-sendiri, kalau lagi mujur kita bisa mendapatkan ikan yang banyak, bahkan bisa mencapai 7 sampai 10 kilogram,” katanya.

Camat Dempo Selatan Rahmad Madroh menambahkan, tradisi Bubus Tebat Puyang  yang dilakukan warga ini merupakan tradisi sejak zaman nenek moyang yang masih terus dipertahankan.

”Apa yang dilakukan warga ini merupakan tradisi turun-temurun yang hingga saat ini masih tetap lestari. Ini kegiatan yang positif, soalnya dengan adanya panen raya, seluruh warga bisa mendapatkan ikan segar untuk kebutuhan sehari-hari. Terlebih bagi warga yang menggelar hajatan bisa mendapatkan ikan untuk kebutuhan mereka,” ujar Rahmad. /sidarta

Sumber : http://beritapagi.co.id/

Behusek Nga Gadis Ngantat

ni Terjadi Didaerah kite, Besemah,Jarai, Seputaran Pagaralam, Lahat, ulu Ayik , Ayik dingin, Tanjung sakti, Lintang , Mulak sampai ke Kikim sane, kalu ade jeme ngagugka anak , sedekah resepsi pernikahan la pasti pengantin betine didampingi li gadis ngantat udem tuh bujang ngantat ndampingi pengantin lanang.

Dikale setenga bulan agi nak ngadekah sedekah bekaguk’an tu la banyak aktifitas ye dilakuka dalam rangka memeriahkan sedekah tersebut.

Behusek nga gadis ngantat

diantaraenye acara behusek nga gadis ngantat, acara seru biasenye selain bujangan ade pule batin mude ngikut nunggur ye marak’i gadis ngantat, segale memuning, pembetun, kadangan ngicik dek nyambung , terutame batin mude kadang bekerung dindak sesimbang kapo tujuan ekandek merayu gadis ngantat , mangke pacak serius nyiang ahi, setelah acara resepsi , karene gadis ngantat biasenye ka milih salah suhang gadis ye die anjamkah, ame dek bedie ye die ribang karene bujang buhuk gale ye marak’i biasenye gadis ngantat cacak demam, tiduk ndulu atau langsung mintak jemput balek .

kriteria gadis ngantat nih harus dewasa, pacak pacak ngambik ati jeme mangke dide disakat bujang tue nga batin mude, acara ye biasenye sampai nyiang ahi nih kemungkinan masih ade dibada mkite, kire2 lukmane kundang kance? dimane lukak nyiang ahi? hubungi redaksi , kami maseh galak begarehan :D

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s