Budaya Wong Empat Lawang

  • Adat perkawinan daerah Lintang Empat Lawang

Perkawinan adalah akad yang menghalalkan pergaulan dan membatasi hak dan kewajiban serta tolong menolong antara laki-laki yang bukan mahrom.[15] Dalam arti lain perkawinan adalah sunatullah, perkawinan dilakukan oleh manusia, hewan bahkan tumbuh-tumbuhan.[16] Perkawinan adalah suatu peristiwa yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat, sebab perkawinan itu tidak hanya menyangkut wanita dan pria pasangan pengatin, tetapi juga kedua orang tua kedua belah pihak, saudara-saudara, bahkan keluarga-keluarga mereka masing-masing.[17]

Lintang Empat Lawang yang letaknya di ujung barat kabupaten Lahat, memiliki corak dan kebiasaan tersendiri dalam hal proses perkawinan atau hal memilih calon pasangan hidup, konon pada masa lalu sangat tertib dan sangat berpegang teguh pada aturan dan kebiasaan dalam bermasyarakat, bila ada yang melanggar aturan yang tidak tertulis itu bisa saja berakibat fatal sebab dapat mengundang perkelahian bahkan mungkin sampai ke pembunuhan, mengerikan memang kedengarannya, tetapi itulah ciri khas daerah Lintang Empat Lawang. Masyarakat Lintang Empat Lawang umumnya memiliki sifat yang halus dan perasa, walaupun kasar tindakannya. Jarang sekali orang Lintang Empat Lawang kalau ingin menyampaikan keinginannya dengan cara tembak langsung, paling tidak basa basi dulu, disamping cukup memiliki toleransi dan suka membantu, sikap ini tercermin bila mereka mengolah tanah pertanian misalnya, Ngersayo Nebang, Ngersayo Nungal, Ngersayo Ngetam dan lain-lain. Dengan sikap yang demikian ini sebetulnya dapat memupuk rasa persaudaraan yang erat, saling mengenal satu sama lain. Disaat Ngersayo-ngersayo ini juga memberikan kesempataan muda-mudi berkomunikasi. Bahkan dapat menciptakan hubungan percintaan dan berakhir pada perkawinan. Muda-mudi daerah Lintang Empat Lawang bila sedang dilanda cinta mereka melakukan hubungan sembunyi-sembunyi karena takut diketahui pihak keluarga si gadis, khususnya ayah atau saudara laki-laki sigadis tersebut, kalau saja pihak keluarga sigadis tahu atau sengaja bersendagurau dihadapan mereka, maka itu dianggap tidak menghargai (Ngampuk) hal ini yang sering “Kena Puntung” bila sibujang ingin bertemu (Ngecek) dengan seorang gadis, maka dia harus menyuruh seseorang utusan untuk menemui gadis tersebut dan mengundang untuk bertemu disalah sebuah rumah tetangga atau keluarga, jika sigadis merasa setuju, lalu siutusan itu kembali menyampaikan berita itu kepada sibujang tadi. Didalam menyampaikan keinginan untuk berumah tangga, baik bujang maupun gadis boleh langsung menyampaikan kepada orang tua mereka secara langsung atau melalui pihak ketiga (kakek, nenek, uwak, atau kakak) bila merasa singku (malu). Setelah tiba saatnya hari yang dijanjikan untuk memadurasan, pihak keluarga sang bujang datang kerumah sigadis dan disertai oleh seorang diplomatis (pemegang rasan). Demikian juga sebaliknya pihak gadis juga menyiapkan seseorang pemegang rasan, dalam hal ini tentunya orang tersebut pandai bicara dan mengenai pada sasaran yang di inginkan oleh pemberi amanah. Dirumah sigadis sebagai ajang pertemuan untuk memadurasan, para sanak keluarga telah berkumpul untuk mendengarkan dan member dorongan agar rasan tersebut berjalan dengan baik dan lancer. Dua orang utusan pemegang rasan mulai melakukan pembicaraan dengan taktis dan penuh lika-liku, yang akhirnya menemukan kata sepakat yaitu menetapkan tanggal pernikahannya, permintaan mas kawin dan bantuan materi (bentalan yang mencakup hewan potong, beras, uang dan sebagainya). Kesemuanya itu diperuntukan sebagai biaya pelaksanaan resepsi pernikahan, kecuali mas kawi yang berupa emas adalah merupakan hak penuh untuk sigadis, suasana pertemuan tidak menjadi tegang lagi dengan adanya kata sepakat telah didapat, janjipun telah diikat dan sampai pada giliran kapan bujang akan diantat kini sibujang telah menjadi calon penganten dan sigadis menjadi calon bunting (pengantin perempuan), masing-masing diantar kerumah calon mertua untuk mengisi masa pertunangan selama jangka waktu yang telah ditentukan dalam proses calon bunting(pengantin perempuan) diantar kerumah calon penganten (pengantin laki-laki) dan sebaliknya yang disebut dengan istilah  “Baantatan”, biasanya diawali  calon bunting (pengantin perempuan)  dahulu datang kerumah calon penganten (pengantin laki-laki), barulah secara bersamaan  calon penganten dan calon bunting datang kerumah calon bunting, bagi orang tua dalam menyambut calon menantu, biasanya kalau zaman dahulu diperahkan ayek sighehg (air sirih) dan kembang-kembangan dan disertai dengan doa-doa pelaksanaan “Baantatan” ini disertai dengan pesta kecil yang disebut “Nyerawo” dilakukan pada hari penganten (pengantin laki-laki) mau turun dari rumah sebagai ungkapan rasa kegembiraan, maka muda-mudi mengadakan acara Bajidur, tari-tarian (dibawah tahun 60-an) dan ramah tamah (kalau sekarang) beberapa hari setelah selesai “Baantatan”, calon bunting dan calon penganten dikenalkan dengan sanak keluarganya yang disebut dengan istilah “Nundokan bunting atau penganten”, setelah itu mereka akan meniti masa pertunangan, selama masa pertunangan mereka diharuskan membantu segala macam pekerjaan mertua, masa pertunangan ini tergantung dari hasil perasaan dulu, bisa satu tahun atau lebih, masa pertunangan yang panjang ini dimaksudkan untuk penilaian calon bunting/penganten baik sikap, tingkah laku, kejujuran maupun keimanannya. Disamping itu juga masalah keterampilan, kemampuan dan kesungguhan untuk berumah tangga, penilaian semacam ini nampaknya perlu dilakukan dikarenakan masyarakat daerah Lintang Empat Lawang umumnya tidak mengalami masa berpacaran/ belinjangan yang cukup lama, untuk menilai isi hati calon yang dipilihnya tersebut. Hal yang wajar bila muda-mudi daerah Lintang Empat Lawang baru satu atau dua kali bertemu/ ngecek, langsung memadurasan. Sebagai konsekuensinya bila penilaian  antara calon bunting/penganten tidak cocok, maka perkawinan mereka akan dibatalkan. Betapa sakit hati kalau mengalami hal semacam ini bukankah tradisi calon tersebut sudah membantu segala macam pekerjaan calon mertua (nebas, nebang, nyawat, ngetam, pokok o nyadi kebau putih), disamping itu nama baikpun sudah tercemar, sebab dimata masyarakat orang tersebut tidak ada kecakapan (kedaekan), sehingga menyulitkan untuk meminang gadis lain. Oleh karena itu calon bunting dan calon penganten harus berhati-hati jangan sampai rasan batal (rasan orong). Jika perlu kalau tadinya kurang rajin bekerja dan beribadah maka pada masa pertunangan harus ditingkatkan, agar mendapat penilaian (penindaian) dari calon mertua. Bila masa pertunangan ini berjalan lancer dan cocok menurut penindaian (penilaian) calon mertua, maka proses selanjutnya adalah acara pesta pernikahan.

Menjelang dua minggu lagi pesta pernikahan, orang tua calon bunting (pengantin perempuan) mengadakan pertemuan secara singkat dengan orang tua calon penganten (pengantin laki-laki) dan menanyakan persiapan bentalan yang dijanjikan, hari apa bisa diantar. Dari hasil pertemuan akan didapat jawaban kepastian kapan bentalan akan dikirim, maka sebelum bentalan diantar kerumah calon bunting (pengantin perempuan) akan didirikan Lembongan. Lembongan ini didirikan  gunanya untuk perluasan tempat memasak, sebab kapasitas dapur tidak memungkinkan, karena terlalu sempit menampung orang banyak, dari mulai mendirikan Lembongan hingga pesta selesai diadakan pembagian tugas yaitu: mendirikan Lembongan dikerjakan oleh orang tua laki-laki, sedangkan ibu-ibu mengambil daun-daunan dan mengumpulkan sayur-sayuran misalnya mengambil nangka, terong, kates dll. Yang diambil dari kebun sendiri. Orang tua calon bunting/penganten (pengantin perempuan/laki-laki) mengundang sanak keluarga (Bejeghum) agar meramaikan pesta pernikahannya, sedangkan muda-mudi yang gadis membuat kue-kue dan yang bujang membuat dekorasi (hiasan). Bujang gadis yang bekerja disini disebut Gertang (matangaguk). Beberapa hari kemudian barulah bentalan datang dari calon pengatin laki-laki pada hari mengantar bentalan pengantin laki-laki tersebut dating kerumah pengantin perempuan bersama bentalan dan ditempatkan dirumah khusus buat calon pengantin laki-laki yang disebut rumah mendan. Dirumah ini pengantin laki-laki hanya ditemani oleh inang yang dipilihnya sendiri, untuk melayani keperluannya dalam menghadapi hari pesta pernikahannya, sampai selesai setibanya bentalan dirumah calon pengantin perempuan (rumah pangkal).

Kesibukan semakin bertambah, para warga sekitar berdatangan  dan membawa beras, ayam dan lain-lain sebagai sumbangan (petolong), disamping itu mereka membantu segala macam pekerjaan yang ada. Tiga hari lagi menjelang hari pesta pernikahan, tuan rumah mengumpulkan sanak keluarga dan warga sekitarnya untuk menyerahkan tugas secara resmi yang disebut “Nyerahkan Aguk” (kalau sekarang sama dengan membentuk panitia). Orang yang diberi tugas ini harus bertanggung jawab penuntasan tugas yang diberikan kepadanya, baik itu soal masak memasak ataupun urusan lampu dan sebagainya, biasanya para pengemban tugas mulai melakukan kegiatannya pada hari malemang (satu hari sebelum hari pernikahan), hingga esok harinya hari pesta pernikahan (hari nyemelek atau nyemok=nyelemok). Kini hari malemang telah tiba, hari berganti senja, senjapun berganti malam, para sanak keluarga, alim ulama dan handai tolan telah memenuhi ruangan untuk menyaksikan akad nikah. Calon pengantin laki-laki mengenakan pakaian adat ala pakaian haji mulai diturunkan dari rumah mendan dan akan dibawa kerumah pangkal, selangkah demi selangkah pengantin laki-laki diturunkan para penjemput dan diiringi dengan arak-arakan, hati sang pengantin berdebar-debar, getaran jantungnya kian berdetup semakin kencang, karena membayangkan sesaat lagi dia akan resmi menjadi pengantin. Setibanya pengantin laki-laki dirumah pengantin perempuan, dia sambut bagai pangeran yang akan dinobatkan menjadi raja, kalam Ilahiah mulai dikumandangkan, segala petunjuk dan persyaratan dari ajaran agama telah dibacakan. Kini giliran pengantin laki-laki mengucapkan akad nikah yang disaksikan khalayak ramai, dalam mengucapkan akad nikah harus betul-betul memenuhi ketentuan agama Islam. Acara akad nikah telah selesai pengantin dipersilahkan duduk berdampingan (bersanding). Diatas pelaminan, disuasana yang menggembirakan  ini berbagai bentuk hiburan akan diturunkan untuk menghangatkan suasana pesta pernikahan ini. Hiburan dalam pesta pernikahan ini telah banyak mengalami perubahan, dari kurun waktu sampai dengan kurun waktu sekarang, sebelum tahun 20-an. Hiburan atau acara kesenian yang ada “Ngala sambai atau Badindin”, yaitu muda-mudi mengungkapkan isi hati lewat seni, apakah itu berupa keinginan hidup atau berbau sejarah perjuangan. Hiburan semacam ini dianggap paling tua, kemudian tari-tarian sampai mereka mengenal alat musik  sederhana yang berupa jidur, ketipung, kulintang dan gong. Setelah tahun 20-an sampai 50-an acara hiburan lebih ditonjolkan yang bersifat keagamaan misalnya kosidah, diqir, seni baca berzanji dan seni baca al-qur’an, sedang alat musik berupa terbangan, pada masa ini bukan berarti seni tradisional sebelumnya sudah hilang sama sekali, contohnya bajidur masih tetap dipakai namun lebih dominan dalam acara pesta pernikahan adalah kosidahan. Pada mulanya kosidah yang mereka kenal hanya 24 macam diantaranya yaitu: Roqbi, Hijaz, Yaman Hijaz, Sika dan seterunya. Kemudian berkembang menjadi ratusan macam, kasidah yang pada umumnya diambil dari bacaan berzanji dan digelarkan pada malam pesta pernikahan, dan dipertandingkan dengan mengadu suara mas masing-masing. Disamping terbangan  dikenal juga alat musik gitar, musik gitar ini adalah pengembangan dari Jidur, dimana lirik dan makna lagunya sama, serta vokalnya dibawakan sendiri hanya saja nama lagu yang dibawakan disebut Rejung. Sedangkan irama Rejung dapat berkembang bermacam-macam, melalui Rejung dapat pula mengungkapkan isi hati, menceritakan suka duka dalam perjalanan hidup, merayu dan membuat hati sang gadis tersentuh serta menghibur hati dikala sedih. Namun gitar ini tidak digunakan pada acara pesta pernikahan, sedang terbangan hanya digunakan dalam pesta pernikahan misalnya “ngarak bunting dan penganten, atau mendampingi lagu diqir/ratib saman” pada malam pesta pernikahan. Di tahun 50-an mulai dikenal orkes, orang yang pertama mengenalkan  musik orkes didaerah Lintang Empat Lawang bernama Bodin, asal dusun muara Karang, sampai akhirnya dia membentuk suatu group orkes dengan nama Jaya Jagad, tokoh seniman ini dan dan bersama orkesnya menjelajahi hampir setiap pelosok daerah Lintang Empat Lawang untuk menghibur pada acara pesta pernikahan. Musik orkes ini diadakan mulai dari malam akad pernikahan sampai hari pesta pernikahan (hari nyelemok/nyemok) dan ditempatkan pada tempat khusus yang disebut Balai. Sedangkan kegiatan yang dilakukan dirumah pangkal pada malam hari akad nikah dan pesta akad nikah, menjadi tempat untuk menjamu para undangan yang dating sebelum sampai waktu acara pengantin perempuan dan laki-laki bertamat Qur’an (khatam Qur’an), disamping acara bertamat Qur’an juga dibacakan berzanji, Marhabah, doa-doa dan dilanjutkan dengan jamuan makan siang (nyelemok/nyemok).

Bila acara nyelemok/nyemok telah selesai, para tamupun berpamitan pulang, sedangkan pengantin perempuan dan laki-laki baru ditunggalkan (tidur bersama) setelah hari nyerawo, yaitu dua hari setelah pernikahan selesai, pada hari tersebut Lembongan/sempeng akan  dibongkar dan semua gertang dan inang diantar pulang secara resmi, dengan diberi hidangan Setalam sebagai ucapan terimakasih. Baru pada hari ketiga  atau keempat pengantin perempuan dan laki-laki tidur bersama, dalam menunggalkan pengantin ini ditunjuk seorang perempuan yang sudah nenek-nenek untuk mengantar pengatin laki-laki kekamar pengantin perempuan, sang nenek memberikan petunjuk dan membisikan sesuatu yang rahasia, lalu sinenek langsung keluar dari kamar, berikutnya kita tidak tahu apa yang terjadi didalam kamar. Sebagai penutup adat pernikahan didaerah Lintang Empat Lawang.

Disini kami jelaskan dalam menentukan pasangan hidup ada beberapa cara yang dikenal didaerah Lintang Empat Lawang adalah sebagai berikut:

  1. Rasan samo galak dan dituokan

Yaitu muda-mudi suka sama suka dan orang tua kedua belah pihak sama-sama setuju, prosesnya telah diuraikan diatas

  1. Maling Tubu

Orang tua disalah satu pihak ada yang belum setuju kalau anaknya cepat menikah atau karena alasan lain, sehingga setiap mau dituokan selalu mengalami kegagalan. Maka sang muda-mudi sepakat untuk Maling Tubu, yaitu sang bujang menemui gadisnya untuk diajak kerumahnya, dengan cara ini akan memaksa orang tua untuk berasan, dalam Maling Tubu ini ada aturannya, antara lain sang bujang harus menitipkan “keris” pada pemerintah kampong (kalau sekarang disebut kades, zaman dahulu disebut Gindo), atau paling tidak keris tersebut diletakkan dibawah bantal sang gadis (tentu menyuruh sang gadis itu sendiri melakukannya), sebab Maling Tubu ini tidak boleh ketahuan oleh keluarga sang gadis, bila sampai ketahuan berakibat batal hak, yang disebut “kecandak”. Keris yang dititipkan dirumah Gindo atau yang diletakkan dikamar sang gadis tersebut dimaksudkan sebagai jaminan untuk keselamatan sang gadis, bahwa yang membawa adalah anak laki-laki dan berniat baik untuk menyunting gadis, gadis yang dibawa harus ditemani oleh beberapa orang temannya, sang bujang pun demikian, baru kemudian seorang yang ditunjuk sebagai utusan dari pihak bujang untuk memberitahukan  kepada keluarga gadis, bahwa anaknya sekarang berada dirumah sianu, untuk selanjutnya diproses seperti biasa.

  1. Rasan Tambik anak dan rasan Kesah

Pada saat memdurasan harus tetap ditempat  mereka menetap setelah berumah tangga nanti “Rasan Tambik anak”, berarti setelah mereka menikah menetap dan mencari nafkah dirumah bunting(pengantin perempuan). Sedangkan rasan Kesah berarti perempuan ikut kerumah pengantin laki-laki dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. Laki-laki harus memberikan uang yang wajar dan
  2. Memberikan keris kepada orang tua perempuan, keris ini dimaksudkan sebagai “Tebus Semangat”.
  3. Kawin Cindo

Yaitu pernikahan yang masih ada hubungan family, hal ini terjadi biasanya karena keinginan orang tua, dan bisa jadi karena keduanya suka sama suka.

Sumber: irawansahputra.blogspot.com

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s