Tradisi “Ngobeng”

Ngobeng Yuk!

Ngobeng … ternyata kata ini tidak begitu dikenal oleh sebagian besar masyarakat Palembang. Bagaimana tidak, ditengah pesatnya arus globalisasi, menjadikan ngobeng kian luntur dimakan masa. Sebuah tradisi warisan nenek moyang yang memiliki nilai flosofis yang tinggi kini terhempas oleh akulturasi budaya ‘datangan’. Sehingga banyak dari masyarakat Palembang, khususnya di kalangan anak muda masih merasa asing dengan tradisi ini.

Ngobeng adalah salah satu tradisi kental masyarakat Palembang dalam menjalani kebersamaan, tradisi ini biasa dilakukan pada saat ada acara sedekahan (kendurian), pernikahan dan lain sebagainya.

Ngobeng sendiri dilakukan dengan cara bersusun berdiri secara shaf, dengan mengoper makanan/hidangan ke tempat makan acara sedekahan. Maksudnya dari satu orang ke orang berikutnya. Tujuannya agar makanan cepat sampai ke tempat yang disediakan dan beban orang yang mengangkat makanan akan lebih ringan. Akan tetapi ngobeng hanya bisa kita temui di tempat acara sedekahan yang tamunya makan secara hidangan (duduk lesehan, satu hidangan 8 orang). Sayangnya adat ini sekarang sedikit sekali yang menggunakanya, lama-lama adat ini akan hilang, karena masyarakat Palembang asli sendiri lebih cenderung menggunakan prasmanan.

Konsep Nobeng/Ngidang berdasarkan susunan nya ada 2 jenis yaitu :

1. Ngobeng Biasa Untuk makan orang 8 dalam satu hidangan (Seperti Diuraikan di atas)

Ngobeng biasa biasanya dilakukan pada saat sedekahan (kenduri) dimana di dalam nya ada iwak/lauk dan pulur (yang terdiri dari sayur, sambal & buah-buahan) dan yang menjadi tengah/center dari obengan ini adalah dulang yang terbuat dari kayu yang berisi nasi baik itu nasi putih atau nasi minyak, saat penyajian makanan ini pun di lakukan estafet oelh beberapa orang sehingga tidak terlalu berat, yang unik lagi pada saat sebelum makan ada orang yang berkeliling yang memberikan teko dan baskom yang di gunakan untuk cucian tangan.

2. Ngobeng Panjang yang biasa lebih dari 8 orang (Disebut Juga Kambangan)

Ngobeng Panjang/ Kambangan biasanya di pakai untuk acara perayaan pernikahan dan bebebrapa acara lainnya di mana yang duduk di sana lebih dari 8 orang, dan di tengahnya ada perlengkapan seperti kemplang tunjung, dan beberapa jenis makanan lainnya yang sering di sebut dengan Botekan. dan di tengah-tengah juga berdiri beberapa orang gadis biasanya 3 atau 4 orang yang bertugas untuk melayani para tamu undangan.

Ngobeng di Griya Agung

Pada awal tahun 2011 lalu, tradisi yang nyaris hilang ini muncul di Griya Agung -Rumah Dinas Gubernur Sumsel di Jl. Demang Lebar Daun, Palembang. Beberapa pegawai di kediaman dinas ini terlihat sibuk membentangkan kain telapak meja ke lantai, dimana di dalamnya ada iwak/lauk dan pulur (yang terdiri dari sayur, sambal & buah-buahan) dan yang menjadi tengah/center dari obengan ini adalah dulang yang terbuat dari kayu yang berisi nasi minyak, saat penyajian makanan ini pun di lakukan estafet oleh beberapa orang sehingga tidak terlalu berat, yang uniknya lagi pada saat sebelum makan ada orang yang berkeliling yang memberikan teko dan baskom, yang digunakan untuk cucian tangan.

Tidak kurang terdapat 70 tempat yang disediakan. Biasanya, untuk satu tempat ngobeng porsinya untuk delapan orang undangan. Tak terkecuali Gubernur Sumsel Ir. H. Alex Noerdin SH dan beberapa pejabat lainnya duduk lesehan mengeliling hidangan dan makan malam bersama.

Kebersamaan yang komunikatif benar-benar kental saat menyantap menu kuliner yang disajikan. Dimana satu sama yang lain saling menawarkan lauk yang ada dihadapannya ke orang diseberangnya. Begitu pun sebaliknya. “Tradisi ini nyaris hilang, jadi kita upayakan untuk dihidupkan kembali,” ujar Bapak Alex Noerdin.

Benar saja, beberapa tamu asal luar Palembang yang dipersilahkan masuk ruang VIP ini terkejut dengan pola hidangan yang sudah disiapkan. Namun beberapa warga yang asli Palembang yang merindukan cara makan hidangan seperti ini, seolah menyegarkan kembali kehidupan di masa kecil atau di zaman orang tua sebelumnya.

“Orang sekarang makan ala Francis, makan dan minum berdiri. Kalau makan seperti ini mengikuti sunah Rasulullah,” kata H. Ahmad Hanafi (56) yang hadir di acara tersebut.

Nah, banyak sekali pelajaran berharga dari tradisi ngobeng ini. Diantaranya yaitu terjalinnya keakraban antar tamu undangan, yang muda mempersilahkan kepada yang lebih tua untuk mengambil makanan terlebih dahulu, dan mengasah sifat down to eart (kerendahan hati) karena duduknya lesehan, serta turut serta dalam melestarikan budaya Palembang itu sendiri.

Sumber : ceknoer.blogspot.com

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s