Kuliner Khas Sekayu

Pindang salai ikan baung atau pindang baaung

news  Sebagai ibukota Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sekayu ternyata menyimpan beragam potensi kuliner yang luar biasa.

Beberapa makanan khas yang kerap dicicipi penduduk asli maupun para pendatang, terkenal memiliki cita rasa yang khas dan berbeda dengan masakan lainnya.

Salah satunya pindang salai ikan baung atau pindang baung sungai yang hanya bisa ditemui di Rumah Makan (RM) Serasan Sekate Sekayu (S3).

RM S3 ini terletak di pinggir jalan utama Kol Wahid Udin tidak jauh dari kawasan perkantoran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Muba.

Meski baru berdiri pertengahan tahun lalu, S3 ini sangat ramai dikunjungi pelanggan karena beragam pilihan menu yang tersedia dengan rasa yang khas.

Pindang baung salai atau pindang baung segar menjadi dua menu masakan yang diandalkan di antara beberapa menu lainnya.

Sebab selain harganya relatif terjangkau atau Rp 25 ribu per porsinya, cita rasanya pun khas. Gurih dan lembut daging baung dengan resapan bumbu yang diracik khusus pemiliknya, membuat mulut tak mau berhenti mengunyah.

Begitulah gambaran kecil dari sensasi rasa dua masakan bahan olahan yang sama namun dengaan tampilan dan rasa berbeda ini.

Nikmatnya rasa gurih ikan baung salai yang direndam dengan kuah pindang ini semakin terasa jika dikombinasikan dengan pemandangan indah hamparan sawah yang terdapat di sekitar.

Rasa gurih bercampur pedas dari kuah ikan salai serta daging ikan yang empuk mampu menimbulkan sensasi tersendiri di lidah.

Harum kembang kemangi yang dipadukan dengan aroma campuran berbagai bahan tambahan lainnya seperti lengkuas, tomat, dan mentimun sangat kentara hingga memaksa lidah untuk segera mencicipinya.

Sumber:mubakab.go.id

PUNDANG

Pundang & Pindang Gulai Ikan Primadona Musi Banyuasin

Pundang muba adalah makanan khas yang ada di tempat ini, berbahan dasar ikan seluang, ikan kecil yang hidup di perairan Sungai Musi dan memang kerap dijadikan penganan oleh masyarakat Musi Banyuasin. Ikan ini berukuran sangat kecil, mirip ikan teri namun lebih besar dan bedanya tidak asin. Ikan seluang hanya hidup di perairan Indonesia, Malaysia, dan negara Asia lainnya.

“Biasanya ikan ini digoreng kering atau diberi tepung kemudian disantap sebagai lauk bersama nasi dan sambal kemang. Kemang adalah buah sejenis mangga, biasanya oleh warga dijadikan bahan pembuat sambal, jadi sambal tersebut tidak hanya pedas namun juga sedikit asam atau manis.

Sumber:lifestyle.okezone.com

Brengkes Ikan Patin Tempoyak

Brengkes, Ikan Patin Khas Sekayu

Ini adalah salah satu makanan khas Sumatera Selatan. Brengkes patin ini bisa dicoba di salah satu rumah makan di Sekayu, ibukota kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Bahan utama yang digunakan adalah ikan patin. Sekilas mirip-mirip dengan pepes ikan. Hanya saja dalam brengkes ini ditambahkan tempoyak. Yaitu durian yang sudah difermentasi.

Rasa duriannya dominan banget. Berbeda dengan durian segar, durian tempoyak ini rasanya sedikit asam. Mungkin karena sudah difermentasi. Seperti halnya pepes, patin ini juga dibumbui dengan aneka rempah. Seperti cabe, bawang merah, bawang putih dan lain-lain. Semua bumbu dihaluskan dan dicampur dengan tempoyak.Brengkes patin ini sangat berminyak.Tapi tentu saja minyak yang menyehatkan. Minyak ini berasal dari ikan patin sehingga sangat baik untuk kesehatan jantung kita.

Sumber: m.log.viva.co.id

Pedeh semacam rusip or bekasam

Pedeh adalah makanan yang bahan utamanya yakni ikan. Cara membuatnya pun terkesan unik. Ikan yang menjadi bahan utamanya akan diolah dengan cara dibusukan. Setelah itu adonan ikan yang telah dibusukan lalu dicampur dengan bumbu-bumbu yang lainnya. Dan terakhir siap dimakan bersama dengan nasi kering yang dicampurkan ke dalamnya. Memang, cara yang digunakan terkesan menjijikan tetapi seandainya dipikir-pikir justru inilah yang disebut dengan kebudayaan. Bisa dibilang masyarakat kota Sekayu telah terbiasa untuk mengkonsumsi makanan yang dirasa telah mendarah daging dengan lidahnya. Namun, walaupun begitu mereka harus memperhatikan nutrisi yang masih terkandung didalamnya. Kebanyakan pedeh disukai oleh masyarakat Sekayu asli dibandingkan oleh masyarakat Sekayu pendatang.

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s