Tari dari Bumi Lan Serasan Sekantenan (Musi Rawas)

Tari Silampari

Legenda Tari Silampari dari Putri yang Diculik

KONON, ada seorang putri cantik anak dari Raja Linggau yang hilang di Bukit Sulap. Legenda ini sangat terkenal di Kota Lubuklinggau.

Pada zaman dahulu kala, ada seorang putri cantik bernama Dayang Torek. Ia adalah putri dari pasangan Selendang Kuning dengan Raja Linggau. Kecantikan Dayang Torek terdengar sampai ke telinga Pangeran Palembang. Muncullah niat sang Pangeran untuk meminang Dayang Torek guna menyatukan Palembang dan Lubuklinggau.

Namun, Dayang Torek menolak. Entah apa alasanya, ia tidak ingin menikah dengan Pangeran tersebut. Dayang Torek akhirnya diculik dan dibawa ke Palembang untuk dinikahkan paksa dengan Pangeran Palembang tersebut.

Suatu ketika, salah seorang kerabat kerajaan Linggau diutus untuk mencari Dayang Torek. Setelah bertemu, ternyata Dayang Torek telah memiliki anak. Anak tersebut kemudian dibunuh oleh saudara Dayang Torek dengan menggunakan taring yang telah disiapkan.

Karena itulah akhirnya Dayang Torek meminta pada dewata untuk diangkat ke khayangan. Sejak saat itu, akhirnya sang putri menghilang dan tak bisa ditemui lagi. Sejak saat itulah muncul Tari Silampari.

Tari Silampari dibawakan oleh enam orang perempuan dan satu laki-laki. Tari ini diangkat dari kehidupan masyarakat Kota Lubuklinggau, yang lebih dikenal dengan nama Silampari. Sebagai kota transit, tentunya akan banyak pengaruh budaya yang datang dan silih berganti, tetapi itu tidak menyurutkan semangat generasi muda Kota Lubuklinggau untuk tetap mempertahankan adat budayanya sebagai Bumi Silampari Lubuklinggau. Materi gerak ini merupakan pengembangan dari aspek ruang, waktu, dan ttenaga, Tetapi masih dalam tataran gerak yang berkembang di Lubuklinggau pada umumnya.

Sumber : Okezone.com

Tari Piring Musi Rawas

MUSI RAWAS — Tari Piring memiliki makna heroik, perjuangan, dan kehati-hatian. Sayang kesenian ini jarang ditampilkan dalam pagelaran acara atau pesta di tengah masyarakat.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Mura menyebutkan kesenian Tari Piring merupakan satu dari 12 di antara kesenian tarian daerah Bumi Lan Serasan Sekantenan yang terinventarisasi dan kin nyaris punah. Ini karena tergerus kesenian modernisasi. Sampai saat ini tidak ada upaya pembinaan serius terhadap anak muda yang justru cenderung ke kesenian ala barat.

Kepala Disbudpar Mura, Hj Susilawati Burlian, melalui Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan, Hamam Santoso, menyayangkan tidak adanya perhatian serta pembinaan serius oleh pihak kecamatan, kelurahan, ataupun desa. “Setidaknya mereka melakukan pendataan terhadap sejumlah kesenian yang menjadi tradisi, khususnya pembinaan terhadap kesenian tari,” ujarnya.

Hamam mengungkapkan, Tari Piring memiliki dua versi, yakni Tari Piring Gelas Rawas Ulu dan Selangit. “Maknanya heroik, kepahlawanan, perjuangan, dan kehati-hatian. Biasanaya ditampilkan di acara pesta. Tapi, kalau sekarang sudah sangat jarang,” ungkapnya.

Selain itu, sejumlah tarian yang nyaris punah di Mura di antaranya Tari Turak, Putri Berhias, Kain, Pisau, dan Belewan. “Upaya sudah kita lakukan dari dulu untuk pembinaan seniman tari,” tegas Hamam.

Frans (29), salah seorang pemuda, mengaku miris kesenian di Kabupaten Mura jarang ditampilkan. “Harusnya pemerintah memberikan pembinaan ke sekolah ataupun melalui pagelaran acara kesenian. Misalnya digelar acara sebulan dua kali,” jelas Frans. (wek/ce6)

Sumber :Sumatera Ekspres, Sabtu, 22 Maret 2014

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s